loading...
Lawan arus penurunan pasar otomotif, Polytron justru cetak rekor dengan hampir 40.000 pengguna motor listrik berkat inovasi fast charger dan pabrik baterai mandiri. Foto: Polytron Indonesia
JAKARTA - Tahun 2025 tercatat sebagai periode koreksi yang menyakitkan bagi sebagian besar pelaku industri otomotif nasional. Meski demikian, data lapangan justru menunjukkan paradoks menarik dari produsen elektronik asal Kudus, Jawa Tengah.
Di saat grafik penjualan kendaraan roda empat mengalami kontraksi, Polytron justru mencatatkan pertumbuhan agresif dan mengukuhkan diri sebagai anomali positif, khususnya di sektor kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV).
Ketangguhan (resilience) jenama yang telah berkiprah sejak 1975 ini tidak lahir dari keberuntungan semata. Di usia emasnya yang ke-50, Polytron berhasil membaca celah pasar yang gagal dimanfaatkan oleh kompetitor: kebutuhan akan ekosistem pengisian daya yang cepat dan kepastian layanan purna jual.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pemberian Bantuan Pembelian Kendaraan Listrik Roda Dua (Sisapira) tahun 2024, Polytron bertengger di posisi puncak sebagai merek EV nomor satu di Indonesia.
Total basis pengguna mereka kini nyaris menyentuh angka 40.000 unit. Angka ini menjadi validasi pasar bahwa di tengah keraguan konsumen terhadap infrastruktur EV, pendekatan "jemput bola" yang dilakukan Polytron terbukti efektif.
Dominasi di Tengah Turbulensi Pasar

Performa Polytron pada 2025 adalah cerminan dari strategi diversifikasi matang. Ketika daya beli masyarakat tertekan, produk-produk Polytron tetap menjadi pilihan utama.
Data lembaga riset GfK per November 2025 menempatkan Polytron sebagai pemimpin pasar (peringkat pertama) untuk kategori Audio.
















































