loading...
Industri galangan kapal nasional masih memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap komponen impor, sehingga sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar dolar AS (USD). Foto/Dok
JAKARTA - Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah menciptakan tantangan yang semakin berat buat industri galangan kapal nasional. Diperparah lagi dengan meningkatnya harga energi dan berbagai bahan baku yang digunakan dalam proses pembangunan kapal baru ataupun reparasi.
Ketua Umum Institusi Galangan Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo), Anita Puji Utami mengatakan, tekanan terhadap industri galangan kapal semakin terasa seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik yang berdampak terhadap jalur perdagangan internasional itu, khususnya di kawasan Selat Hormuz, telah memicu kenaikan harga berbagai komoditas dan material yang dibutuhkan industri galangan kapal.
"Dampak tersebut dirasakan langsung oleh pelaku usaha yang masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri," kata Anita dalam keterangannya, Senin (8/6).
Baca Juga: Industri Galangan Kapal Terus Menggeliat Jawab Keraguan Presiden
Data yang dihimpun Iperindo menunjukkan, harga Solar B40 mengalami kenaikan hingga 89,19%. Selain itu harga LPG 12 kg meningkat 16,16%, dan LPG 50 kg naik 26,51% dibandingkan periode sebelumnya.
"Khusus untuk pemakaian bahan bakar industri di galangan kapal, harapannya bisa mendapatkan BBM subsidi dari pemerintah," kata Anita.
















































