loading...
Lokakarya Ekoliterasi Konservasi diadakan Pramuka Unpad dan Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI) pada 28 Juli 2026 di Gedung Fisip Unpad, Bandung. Foto: Ist
BANDUNG - Harimau Sumatera dan Badak Sumatera berisiko masuk extinction vortex (punah) sebelum tahun 2051 jika poaching (perburuan ilegal) dan inbreeding (kawin sedarah) tidak diintervensi secara agresif. Hal itu dianalisa berdasarkan teknik menghitung waktu yang tersisa dengan population viability analysis (PVA).
Menurut Kepala Pusat Unggulan Lingkungan dan Ilmu Keberlanjutan Unpad Dr Susanti Withaningsih, pemodelan ilmiah itu untuk memotret eksistensi satwa dalam kurun waktu 25 tahun mendatang.
Ada model lain yang dapat memantau eksistensi satwa liar. Misalnya memakai model Species Distribution yang menunjukan peta kehilangan habitat akibat perubahan iklim. Model Niche Shingkage, yakni adanya penyusutan ruang ekologis akibat kenaikan suhu global. Data menunjukan dengan cara ini, hilangnya habitat yang dramatik.
Baca juga: Manusia-Satwa Liar Hidup Berdampingan secara Harmonis, Mungkinkah?
Prediksi satwa liar lenyap juga dipotret dengan cara mountaintop extinction. Langkahnya memonitor spesies endemic dataran tinggi akan bergeser ke elevasi lebih tinggi hingga sampai pada lokasi yang tidak ada ruang tersisa. Artinya tinggal menungu kepunahan di ketinggian dataran tersebut.
Cara lainnya di hadapan peserta Lokakarya Ekoliterasi Konservasi yang diadakan Pramuka Unpad dan Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI) pada 28 Juli 2026 di Gedung Fisip Unpad, sering disebut Fragmentasi Datarn Rendah. Maksudnya, suatu saat karena perubahan iklim, maka gajah dan orang utan akan terisolasi dalam pulau-pulau habitat yang memperparah konflik dengan manusia.


















































