Pasar Barang Mewah China 'Ambruk', Gerai Louis Vuitton dan Gucci Tutup Massal

1 hour ago 4

loading...

Gerai Louis Vuitton di Lavant Center, Guiyang, tutup pada 31 Agustus 2026, yang menandai berakhirnya kehadiran rumah mode mewah tersebut di Guizhou, China. Foto/Website Louis Vuitton

JAKARTA - Pasar barang mewah China yang selama puluhan tahun menjadi simbol kemakmuran dan pesatnya budaya konsumerisme modern kini menghadapi kontraksi drastis.

Merek-merek internasional ternama seperti Louis Vuitton, Gucci, Balenciaga, hingga Rolex terpaksa menutup gerai-gerai mereka di berbagai kota besar, menandai pergeseran radikal dalam perilaku konsumen China.

Baca Juga: Ribuan Pekerja China Demo Perusahaan asal Negaranya Sendiri di Rusia

Mengutip dari Nile Post, Kamis (17/9/2026), penutupan ini bukan insiden terisolasi, melainkan gejala dari kelemahan struktural yang semakin mendalam pada perekonomian China. Kelompok kaya mulai menahan belanja, kelas menengah terpuruk akibat belitan utang, dan kebijakan pemerintah dinilai gagal menstabilkan permintaan domestik.


Pangkas Belanja dan "Ambruknya" Pasar Second-Hand

Butik-butik mewah yang dahulu riuh oleh belanja impulsif kini tampak lenggang. Kelompok High-Net-Worth Individuals (HNWI) berencana memangkas pembelian barang mewah hingga 10 persen tahun ini.

Langkah defensif ini dipicu oleh pengawasan pajak yang kian ketat, gejolak pasar keuangan, serta pelemahan berkepanjangan pada sektor properti yang menjadi penopang utama kekayaan rumah tangga. Belanja barang mewah yang dulunya merupakan simbol status sosial, kini dipandang sebagai beban finansial yang berisiko.

Read Entire Article
Prestasi | | | |