loading...
Wamendiktisaintek Fauzan pada Forum Diskusi dan Sosialisasi: Peluang dan Tantangan Tenaga Kerja Terampil Indonesia untuk Bekerja di Luar Negeri . Foto/Diktisaintek.
JAKARTA - Transformasi pendidikan tinggi menyorot pada peningkatan kualitas akademik serta penguatan relevansi lulusan terhadap kebutuhan dunia kerja, baik di tingkat nasional maupun global. Dalam menghadapi dinamika pasar tenaga kerja internasional yang semakin kompetitif, perguruan tinggi berperan strategis dalam menyiapkan talenta terampil yang mampu bersaing di pasar global.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), jumlah pekerja migran Indonesia yang ditempatkan ke luar negeri mencapai sekitar 296 ribu orang, dengan total remitansi yang dihasilkan mencapai sekitar Rp280 triliun.
Angka ini menunjukkan kontribusi signifikan pekerja migran terhadap perekonomian nasional. Namun, dibandingkan dengan negara lain seperti Filipina dan India, jumlah tenaga kerja terampil Indonesia yang bekerja di luar negeri masih relatif terbatas, terutama pada sektor-sektor berkeahlian tinggi (high-skilled workers).
Di sisi lain, laporan global terkait ketenagakerjaan menunjukkan adanya kekurangan tenaga kerja terampil (talent shortage) di berbagai negara tujuan, khususnya pada sektor kesehatan, manufaktur, dan teknologi. Kondisi ini menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk meningkatkan partisipasi tenaga kerja terampil di pasar global.
Menjawab peluang dan tantangan tersebut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menyelenggarakan Forum Diskusi dan Sosialisasi: Peluang dan Tantangan Tenaga Kerja Terampil Indonesia untuk Bekerja di Luar Negeri melalui Penguatan Career Development Center (CDC) di Perguruan Tinggi untuk terus mendorong penguatan ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif dan responsif terhadap peluang kerja lintas negara, Rabu (8/4/2026).


















































