Punya Aset Mewah tapi Tidak Ingin Menjualnya? Kenali Konsep Luxury Asset Financing

6 hours ago 8

Fimela.com, Jakarta - Memiliki aset mewah seperti jam tangan koleksi, perhiasan, tas desainer, karya seni, hingga mobil klasik selama ini lebih sering dikaitkan dengan gaya hidup, koleksi, atau simbol pencapaian. Namun, di dunia finansial, aset-aset tersebut juga dapat memiliki fungsi lain ketika pemiliknya membutuhkan likuiditas.

Konsep ini dikenal sebagai luxury asset financing, yaitu pembiayaan yang menggunakan aset bernilai tinggi sebagai jaminan atau collateral. Dengan skema tertentu, pemilik aset mewah dapat memperoleh akses terhadap dana tanpa harus langsung menjual aset yang dimilikinya.

Konsep tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru di pasar global. Di Amerika Serikat dan Inggris, misalnya, luxury asset-backed lending telah berkembang sebagai layanan khusus bagi pemilik aset bernilai tinggi. Jenis aset yang dapat menjadi collateral antara lain fine art, luxury watches, fine jewelry, collectible cars, wine, hingga designer handbags.

Sotheby’s Financial Services bahkan menawarkan pembiayaan dengan menggunakan koleksi seperti jam tangan, perhiasan, serta fine wine & spirits sebagai collateral. Menurut perusahaan tersebut, model ini memungkinkan kolektor mengakses likuiditas tanpa harus menjual koleksi yang mereka miliki. Nilai aset dinilai berdasarkan berbagai faktor seperti kondisi, provenance, kelangkaan, reputasi brand, serta aktivitas pasar terkini.

Artinya, bagi pemilik aset bernilai tinggi, pertanyaannya tidak lagi hanya “berapa harga aset ini?”, tetapi juga “apa yang bisa dilakukan dengan nilai aset yang sudah saya miliki?”

Luxury Asset Financing Bukan Sekadar Cara Mendapatkan Dana

Meski sering ditempatkan dalam pembahasan mengenai wealth management dan investasi, luxury asset financing pada dasarnya merupakan strategi pembiayaan, bukan investasi itu sendiri.

Nilai investasi dan nilai collateral juga merupakan dua hal yang berbeda. Sebuah jam tangan atau tas mewah dapat memiliki nilai pasar tertentu, tetapi nilai tersebut tidak otomatis terus meningkat atau menghasilkan keuntungan.

Yang ditawarkan oleh asset-backed financing adalah kemungkinan untuk memanfaatkan nilai ekonomi dari aset yang sudah dimiliki sebagai sumber likuiditas. Di pasar global, fasilitas semacam ini dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mendanai bisnis, melakukan pembelian aset lain, kebutuhan properti, hingga kebutuhan perencanaan kekayaan.

Dengan kata lain, pemilik tidak harus memilih antara memiliki aset atau memiliki akses terhadap dana. Dalam struktur pembiayaan yang sesuai, keduanya dapat berjalan bersamaan selama kewajiban pembiayaan dapat dipenuhi.

Bagaimana Cara Kerjanya?

Secara umum, proses dimulai dari valuasi aset. Nilai sebuah luxury asset tidak hanya ditentukan dari harga ketika pertama kali dibeli, tetapi juga mempertimbangkan kondisi, keaslian, kelengkapan dokumen, provenance, kelangkaan, reputasi brand, serta permintaan pasar.

Setelah itu dilakukan authentication dan verification untuk memastikan aset memang memenuhi kriteria yang ditetapkan pemberi pembiayaan.

Barulah nilai aset tersebut menjadi salah satu dasar untuk menentukan struktur pembiayaan. Besarnya dana yang dapat diperoleh tidak selalu sama dengan nilai pasar aset karena pemberi pembiayaan juga mempertimbangkan likuiditas dan volatilitas nilai aset.

Tips Sebelum Menjalani Luxury Asset Financing

Bagi pemilik aset yang tertarik dengan konsep ini, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan sebelum mengambil keputusan.

1. Kenali nilai pasar aset terlebih dahulu

Jangan hanya berpatokan pada harga pembelian. Nilai pasar saat ini bisa berbeda, terutama untuk aset seperti jam tangan, perhiasan, karya seni, atau collectible items yang dipengaruhi kondisi pasar dan permintaan.

2. Pastikan aset memiliki provenance yang jelas

Dokumen pembelian, sertifikat keaslian, riwayat kepemilikan, hingga kelengkapan aksesori dapat membantu proses autentikasi dan valuasi. Dalam pembiayaan luxury asset, detail kecil dapat memengaruhi penilaian aset.

3. Jangan hanya melihat jumlah dana yang bisa diperoleh

Perhatikan seluruh biaya pembiayaan, termasuk bunga atau imbalan, biaya administrasi, tenor, biaya penyimpanan jika ada, serta konsekuensi apabila pembayaran tidak dapat dipenuhi.

4. Sesuaikan pembiayaan dengan kemampuan membayar

Aset bernilai tinggi tetap menjadi collateral. Karena itu, penting untuk menghitung kemampuan pembayaran secara realistis sebelum mengambil pembiayaan.

5. Perhatikan bagaimana aset akan disimpan

Untuk aset seperti jam tangan, perhiasan, karya seni, atau collectible, keamanan dan kondisi fisik merupakan bagian penting. Pastikan sejak awal siapa yang bertanggung jawab atas penyimpanan, asuransi, dan perawatan aset selama periode pembiayaan.

6. Pilih penyedia yang transparan dan memahami luxury asset

Berbeda dari aset konvensional, luxury asset membutuhkan keahlian khusus dalam melakukan valuasi dan autentikasi. Praktik di pasar global menunjukkan bahwa spesialisasi menjadi bagian penting dari layanan ini karena nilai aset sangat dipengaruhi karakteristik masing-masing kategori.

Ketika Aset Mewah Menjadi Financial Flexibility

Konsep inilah yang kini mulai diperkenalkan lebih dekat kepada pemilik aset di Indonesia melalui Luxpawn, perusahaan luxury asset financing yang pada 16 September 2026 membuka Lounge keduanya di ASHTA District 8, Prosperity Tower, SCBD, Jakarta Selatan.

Luxpawn menawarkan pendekatan yang menempatkan curated valuation, authentication & verification, privacy, dan trusted asset care sebagai bagian dari pengalaman pembiayaan.

Menurut Founder Luxpawn, Sandy Soetjianto, kepemilikan aset mewah selama ini lebih sering dikaitkan dengan status, lifestyle, dan personal enjoyment. Namun, menurutnya, terdapat dimensi lain dari sebuah kepemilikan, yaitu nilai finansial yang terdapat di dalam aset tersebut.

Perspektif ini sejalan dengan perkembangan luxury asset lending di pasar internasional, ketika aset yang sebelumnya hanya disimpan sebagai koleksi mulai dipandang sebagai bagian dari fleksibilitas finansial. Sotheby’s, misalnya, menyebut model pembiayaan tersebut sebagai cara bagi kolektor untuk mengakses nilai dari aset yang sudah mereka miliki tanpa harus melakukan likuidasi langsung.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Read Entire Article
Prestasi | | | |