loading...
Rudal Iran dipamerkan dalam perang melawan AS. Foto/anadolu
TEHERAN - Di saat kemenangan militer maupun diplomatik belum membuahkan hasil setelah enam bulan perang, sanksi baru Amerika Serikat terhadap Iran tampaknya merupakan upaya mencapai hal yang "sejauh ini gagal dicapai oleh kekuatan militer". Pendapat itu diungkap Sina Toossi, peneliti senior di Center for International Policy.
"Namun, Teheran merespons pendekatan zero-sum (di mana keuntungan satu pihak berarti kerugian bagi pihak lain) tersebut dengan pendekatan serupa," ujarnya.
Dia menambahkan Iran akan berupaya mencegah negara-negara tetangga bergabung dalam kampanye AS, namun partisipasi semacam itu dapat dianggap sebagai "tindakan perang".
"Iran semakin meyakini sikap menahan diri di masa lalu justru memicu eskalasi, dan upaya pencegahan kini menuntut adanya kemampuan serta kesediaan untuk membebankan konsekuensi timbal balik yang jauh lebih berat," kata Toossi.
Meskipun AS "tak diragukan lagi" dapat memberikan tekanan ekonomi tambahan yang sangat besar terhadap Iran, upaya mengisolasi Iran memerlukan kerja sama dari China dan mitra dagang utama lainnya yang selama ini menolak legitimasi sanksi sekunder AS, tambah Toossi.
"Pada saat yang sama, Iran berupaya agar dirinya lebih sulit diisolasi dengan cara memperluas jalur perdagangan darat, menggunakan mata uang nasional, memperkuat hubungan ekonomi dengan China dan Rusia, serta mengurangi kerentanan seperti ketergantungan pada saluran keuangan UEA," kata Toossi.
Sementara itu, Menlu Oman Badr Albusaidi dan Menlu Iran Abbas Araghchi telah bertemu di Teheran untuk melanjutkan pembicaraan mengenai Selat Hormuz.


















































