loading...
Pergerakan harga minyak dunia diprediksi menjadi bom waktu bagi ekonomi, ketika cadangan minyak dunia berada dalam posisi darurat. Foto/Dok
JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia diprediksi menjadi bom waktu bagi ekonomi, meski di pasar berjangka tampak landai. Cadangan minyak dunia berada dalam posisi darurat usai dilaporkan sedang terkuras habis dalam senyap.
Dua petinggi tertinggi raksasa minyak dunia, ExxonMobil merilis peringatan mengenai arah ekonomi global. Mereka menegaskan bahwa pasar saat ini sedang hidup dalam "waktu pinjaman" (borrowed time) sejak perang di Iran dan penutupan Selat Hormuz meletus akhir Februari lalu.
CEO ExxonMobil, Darren Woods membongkar rahasia mengapa harga minyak sejauh ini masih tertahan di kisaran USD90 hingga USD110 per barel. "Ada banyak minyak yang transit di atas air, banyak inventaris di laut yang telah dikerahkan pada bulan pertama konflik. Cadangan minyak strategis negara (Strategic Petroleum Reserves) telah dilepaskan, dan persediaan komersial telah dikuras habis," ungkap Woods.
Baca Juga: Permintaan Minyak Dunia Diramal Turun 1,1 Juta Barel per Hari di 2026
Namun Woods memperingatkan dengan tegas, begitu salah satu sumber cadangan darurat ini habis, harga minyak dunia dipastikan akan meledak tanpa kendali selama Selat Hormuz tetap ditutup. Diprediksi bahwa kurang dari satu bulan, minyak mentah bakal mengalami lonjakan harga yang mengerikan.
Melanjutkan peringatan sang CEO, Wakil Presiden Senior ExxonMobil, Neil Chapman memberikan estimasi waktu yang jauh lebih spesifik dan mengerikan. Menurutnya, stok minyak mentah, bensin, diesel, hingga avtur global kini sudah menyusut ke titik yang sangat kritis.
"Kita sedang mendekati tingkat persediaan minyak yang tidak pernah terdengar sebelumnya. Maksud saya, tingkat yang sangat, sangat rendah," ujar Chapman dalam sebuah konferensi strategi di New York.

















































