Tiga Makna Isra Mikraj Menurut Abdul Mu'ti

3 hours ago 5

loading...

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Muti di hadapan jemaah Masjid At-Thalibin, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, saat memperingati Isra Mikraj. Foto/Istimewa

JAKARTA - Sabar, dermawan, dan konsisten dalam melaksanakan salat, itulah nilai-nilai yang wajib diteladani dari Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW yang akan mengantarkan kepada kemenangan. Hal itu disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti .

Isra Mikraj merupakan peristiwa yang sangat penting dalam perjalanan sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan risalah Islam. Rasulullah mendapatkan kekuatan spiritual berdakwah setelah diperjalankan Isra Mikraj dengan membawa wahyu melaksanakan salat.

Pesan itu disampaikan oleh Mu'ti di hadapan jemaah Masjid At-Thalibin, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia saat memperingati Isra Mikraj bertema "Isra Mikraj Momentum Pembentukan Karakter Unggul", dengan penceramah Ustaz Das’ad Latif, Senin (19/1/2026).

Mu'ti dalam sambutan singkatnya menyampaikan tiga hal memaknai Isra Mikraj. Menurut Mu'ti, Isra Mikraj sebagai sebuah peristiwa yang sangat penting dalam sejarah perjuangan Nabi. Isra Mikraj berlangsung ketika Nabi dalam keadaan sedang gundah gulana. Beberapa ahli menyebutkan Rasul melaksanakan Isra Mikraj pada tahun ke-11 setelah kenabian, yang pada tahun sebelumnya mengalami musibah sangat berat yaitu ditinggal wafat dua orang yang dicintai dan sangat berperan mendukung dakwah Rasul.

Baca Juga: Isra Mikraj dan Fondasi Kebangkitan Umat

Dikisahkan oleh Mu'ti, Rasul ditinggal Abu Thalib pamannya, seorang yang memiliki jasa sangat besar dalam membela dan melindunginya. Berbagai riwayat menyebutkan Abu Thalib waktu itu belum beragama Islam, bahkan ada yang menyebut sampai akhir hayatnya juga tidak memeluk Islam.

Kemudian setelahnya, ditinggal oleh istri tercinta satu-satunya pada waktu itu, yaitu Siti Khadijah. yang menjadi istri dalam keadaan suka dan duka, mendukung perjuangan dakwah Rasul dengan segenap harta yang dimilikinya dan berbagai bentuk perjuangan yang membuat Nabi Muhammad merasa kuat dalam berdakwah.

Baca Juga: Kisah Isra Mikraj, Seperti Apakah Sidratul Muntaha?

"Dua orang yang Nabi cintai itu wafat pada tahun ke-10 setelah kenabian, sehingga dalam sejarah itu disebut sebagai amul huzni atau tahun dukacita," Mu’ti berkisah.

Satu tahun setelah Isra Mikraj, Nabi diperintahkan untuk hijrah dari Makkah ke Yasrib. Meninggalkan kampung halaman demi melanjutkan perjuangan, bukan peristiwa yang mudah dilakukan. Nabi diancam oleh orang-orang kafir yang berusaha menghalangi supaya tidak hijrah. Namun, Nabi kukuh melakukannya.

Karena itu lanjut Mu’ti, dengan merekonstruksi sejarah sebagai bagian dari memahami makna Isra Mikraj, segera didapat satu pemahaman betapa Rasulullah itu mendapatkan kekuatan spiritual dalam berdakwah setelah Isra Mikraj yang di dalamnya mendapatkan wahyu untuk melaksanakan salat.

Mu’ti menunjukkan kuatnya kaitan salat dan kesabaran. Mengutip Al Baqarah 153, Yaaa ayyuhal laaziina aamanus ta'iinuu bissabri was Salaah; innal laaha ma'as-saabiriin, yang artinya "Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar."

Salat juga banyak dikaitkan dengan zakat dan infak. Sehingga di dalam Al-Qur'an surat Ibrahim ayat 31 disebutkan Qul li'ibādiyallażīna āmanụ yuqīmuṣ-ṣalāta wa yunfiqụ mimmā razaqnāhum sirraw wa 'alāniyatam ming qabli ay ya`tiya yaumul lā bai'un fīhi wa lā khilāl.

Read Entire Article
Prestasi | | | |