loading...
Rencana pertukaran posisi strategis antara Wamenkeu Thomas Djiwandono dan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung dipandang sebagai peluang besar untuk mempererat koordinasi kebijakan ekonomi nasional. Foto/Dok
JAKARTA - Rencana pertukaran posisi strategis antara Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono dan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung dipandang sebagai peluang besar untuk mempererat koordinasi kebijakan ekonomi nasional . Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede menilai langkah ini dapat memberikan sinyal positif bagi tata kelola kebijakan jika dikelola dengan prinsip transparansi dan profesionalisme.
Menurut Josua, dukungan yang diberikan oleh Kementerian Keuangan terhadap proses transisi ini dapat dimaknai sebagai upaya strategis untuk menciptakan harmonisasi yang lebih baik antara otoritas fiskal dan moneter.
“Dukungan Menkeu bisa dibaca positif bila dimaknai sebagai upaya merapikan koordinasi fiskal-moneter agar pembiayaan negara, pengelolaan likuiditas, dan stabilitas nilai tukar berjalan lebih sinkron," jelas Josua.
Baca Juga: Independensi BI Terancam Tukar Guling Thomas Djiwandono dan Juda Agung, Benarkah?
Josua menambahkan bahwa kunci utama untuk menjaga kepercayaan pasar di tengah proses transisi ini terletak pada paket komunikasi yang konsisten dan penegasan batas peran yang jelas antara kedua lembaga.
Dengan koordinasi yang lebih rapi, kebijakan moneter dan fiskal diharapkan dapat bergerak searah dalam mendukung stabilitas nilai tukar sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
















































