AI Membuat Kreativitas Murah, Siapa yang Membayar Harganya?

3 days ago 54

loading...

Heidy Arviani, Dosen Ilmu K omunikasi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur. Foto/Istimewa

Heidy Arviani
Peneliti Senior HUMANITAS (Strategic Communication & Digital Humanities)
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
Kandidat Doktor Ilmu Sosial Universitas Airlangga

ADA masa ketika sebuah usaha kecil yang ingin membuat poster promosi harus mencari desainer. Restoran memanggil fotografer. Perusahaan menyewa copywriter. Agensi iklan menurunkan satu tim untuk menyusun konsep, membuat visual, menulis naskah, lalu mengolahnya menjadi kampanye.

Sekarang sebagian pekerjaan itu bisa dimulai dengan membuka AI (artificial intelligence/ kecerdasan buatan). Ketik beberapa kalimat, pilih gaya, minta beberapa alternatif, ubah warna, gambar, headline, atau konsepnya. Dalam hitungan menit, sesuatu yang dulu menuntut keterampilan khusus dan waktu berjam-jam sudah terpampang di layar.

Ini kabar baik. AI membuat kemampuan kreatif jauh lebih mudah diakses. Pelaku UMKM yang dulu tak sanggup membayar jasa desain kini bisa membuat materi promosinya sendiri. Orang yang tidak pernah belajar ilustrasi bisa menghasilkan gambar. Tim kecil bisa memproduksi lebih banyak konten dengan sumber daya terbatas.

Tetapi ada pertanyaan yang jarang muncul saat kita merayakan efisiensi. Jika kreativitas makin mudah dan murah diproduksi, siapa sebenarnya yang membayar harga dari kemurahan itu?

Riset terbaru mulai memberi jawaban yang tidak menyenangkan. Xiang Hui, Oren Reshef dan Luofeng Zhou, dalam studi di jurnal Organization Science (INFORMS) yang dipublikasikan Juli 2023, menemukan pekerja lepas di bidang yang terpapar AI generatif kehilangan peluang kerja sekaligus pendapatan. Peluncuran ChatGPT menyebabkan penurunan sebesar 2% pada jumlah pekerjaan di platform tersebut dan penurunan sebesar 5,2% pada pendapatan bulanan.

Read Entire Article
Prestasi | | | |