loading...
Salim, Ketua Dewan Pakar KPPMPI, Kandidat Doctor Universitas Airlangga. Foto: Ist
Salim
Ketua Dewan Pakar KPPMPI
Kandidat Doctor Universitas Airlangga
MEMASUKItahun 2026, ketegangan di Selat Hormuz bukan sekadar konflik regional, melainkan manifestasi nyata dari dialektika peperangan modern. Mengacu pada tesis Carl von Clausewitz, perang ini tetaplah "kelanjutan politik dengan sarana lain," di mana fog of war memaksa Iran menggunakan asimetri untuk mengimbangi supremasi teknologi lawan. Di titik inilah, pemikiran Alfred Thayer Mahan tentang Sea Power menemukan urgensinya; Iran berupaya membuktikan bahwa penguasaan atas choke point strategis adalah kunci kedaulatan ekonomi dunia.
Namun, Iran tidak hanya mengandalkan kekuatan destruktif. Sesuai teori Julian Corbett, mereka memahami bahwa kontrol laut tidak harus berarti penghancuran total armada musuh, melainkan pengendalian komunikasi maritim. Melalui penggunaan drone bawah air dan rudal pesisir, Iran menerapkan "pertahanan aktif" yang mengingatkan kita pada pertempuran laut di PD I Jutland dan kengerian perang kapal selam di PD II, di mana efektivitas seringkali mengalahkan kemegahan jumlah armada.
Bagi bangsa Indonesia, mandala perang ini memberikan pelajaran filsafat pertempuran yang mendalam: Cakra Manggilingan. Bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa maritim tidak terletak pada besarnya kapal, melainkan pada keteguhan jiwa rakyatnya dalam menjaga setiap jengkal air. Terinspirasi dari semangat "Jalesveva Jayamahe," kita diingatkan bahwa di laut kita jaya bukan karena kita menaklukkan samudra, tetapi karena kita mampu menyatu dengan arusnya. Perang Iran 2026 adalah pengingat bagi Indonesia untuk memperkuat kedaulatan maritim dengan mentalitas petarung yang cerdas, adaptif, dan tak kenal menyerah.
Perang Laut Iran 2026 bukan sekadar adu mekanik di atas gelombang, melainkan sebuah orkestrasi canggih yang menggabungkan ideologi membaja, kelenturan diplomasi, dan doktrin militer yang revolusioner. Di bawah langit Teluk yang membara, Teheran menerapkan strategi attrition war yang dirancang untuk menguras stamina logistik, finansial, dan mental lawan dalam jangka panjang. Mereka tidak lagi mencari kemenangan mutlak dalam satu pertempuran besar satu lawan satu, melainkan penghancuran perlahan melalui saturation attack sebuah serangan jenuh yang melibatkan ribuan drone kamikaze murah dan rudal presisi yang diluncurkan secara simultan dari darat, laut, dan udara untuk melumpuhkan sistem pertahanan secanggih Aegis sekalipun. Inilah penerapan praktis dari mosaic defence, di mana kekuatan militer tidak lagi bersifat terpusat atau monolitik, melainkan terfragmentasi dalam unit-unit kecil yang mandiri, tersebar di sepanjang pesisir berbatu, sulit dideteksi oleh radar canggih, namun sangat mematikan saat berkoordinasi dalam satu komando yang presisi.
Kekuatan Iran kian berlipat ganda melalui pemanfaatan proxy war yang sangat terintegrasi dalam "Poros Perlawanan". Dengan dukungan Hizbullah di Lebanon yang mengancam front utara, Hamaz di Palestina, Houthi di Yaman yang memegang kendali atas urat nadi Bab-el-Mandeb, serta milisi Basij yang memiliki loyalitas fanatik, Iran menciptakan kepungan geopolitik yang memaksa lawan bertempur di banyak front secara bersamaan. Fenomena ini adalah puncak dari hybrid warfare, di mana batas antara kombatan dan non-kombatan, serta antara ruang siber, disinformasi, dan medan fisik, menjadi kabur. Setiap langkah perlawanan ini dibungkus dalam retaliation strategy strategi pembalasan yang sangat terukur; sebuah pesan tegas kepada dunia bahwa setiap jengkal agresi terhadap kedaulatan mereka akan dibayar dengan harga yang tidak tertahankan bagi stabilitas energi dan ekonomi global. Iran membuktikan bahwa diplomasi di meja perundingan hanya akan sekuat taring yang mereka miliki di lautan.


















































