loading...
Eko Ernada, Dosen Hubungan Internasional, Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur; Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Majelis Ulama Indonesia. Foto/SindoNews
Eko Ernada
Dosen Hubungan Internasional, Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur; Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Majelis Ulama Indonesia.
KONFLIK yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sering kali dipahami secara sederhana sebagai pertarungan militer atau pertentangan ideologis antara Barat dan Timur. Namun jika dilihat lebih dalam, konflik ini sesungguhnya merupakan bagian dari dinamika perebutan pengaruh geopolitik di Timur Tengah yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
Perang bukan sekadar soal serangan militer atau pembalasan strategis, tetapi juga tentang siapa yang akan menentukan arah politik, keamanan, dan masa depan kawasan yang secara historis selalu menjadi salah satu pusat gravitasi politik dunia.
Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memiliki akar historis yang panjang. Banyak analis menelusurinya hingga peristiwa Iranian Revolution yang menggulingkan rezim Shah Iran yang sebelumnya menjadi sekutu utama Barat di kawasan. Sejak revolusi tersebut, Iran berubah menjadi negara yang secara ideologis menentang dominasi Barat, khususnya Amerika Serikat, sekaligus mengusung visi politik regional yang lebih independen. Perubahan orientasi ini secara langsung menggeser keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.
Di sisi lain, Israel selama beberapa dekade telah menjadi sekutu strategis Amerika Serikat di kawasan. Dukungan politik, militer, dan teknologi dari Washington menjadikan Israel sebagai salah satu kekuatan militer paling dominan di Timur Tengah. Dalam kerangka ini, hubungan AS–Israel tidak hanya bersifat bilateral, tetapi juga merupakan bagian dari strategi Amerika untuk menjaga stabilitas kekuatan yang menguntungkan kepentingannya di kawasan.


















































