loading...
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. FOTO/Anggie Ariesta
JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menghadapi sorotan tajam terkait realisasi penerimaan pajak yang belum menggembirakan. Hingga Oktober 2025, penerimaan pajak tercatat baru mencapai Rp1.459 triliun atau 70,2% dari outlook Rp2.076,9 triliun. Capaian tersebut memunculkan kritik dari anggota Komisi XI DPR RI dalam rapat kerja yang berlangsung, baru-baru ini.
Purbaya menekankan bahwa penilaian terhadap kinerja perpajakan tidak bisa menggunakan standar situasi normal. Ia menegaskan bahwa tekanan ekonomi yang berkepanjangan telah menggerus aktivitas usaha dan melemahkan peredaran uang di masyarakat sejak tahun lalu.
"Ini saya banyak ditegur masalah pajak dan lain-lain, seolah-olah keadaan normal. Yang perlu kita ingat adalah keadaannya kita keadaannya nggak normal sampai September kemarin, Oktober saja baru mulai balik, belum keluar dari tekanan loh. Ini yang sedang kita perbaiki, jadi jangan dihitung sebagai keadaan normal," jelasnya dikutip, Sabtu (29/11/2025).
Baca Juga: Buru Pajak Tambang, DJP Dorong Integrasi Minerba One dengan Coretax
Purbaya menilai bahwa dalam kondisi ekonomi yang belum stabil, menaikkan tarif pajak bukanlah pilihan yang bijak. Menurut dia, upaya tersebut justru akan memperburuk situasi dan bertentangan dengan prinsip kebijakan countercyclical yang dianut pemerintah.
"Saya bisa aja naikin tarif (pajak) di sana-sini, tapi hasilnya pasti lebih jelek daripada yang sebelumnya. Kenapa? Ekonomi lagi jatuh. Kita kan tahu kebijakan countercyclical, kalau lagi jatuh kita bebani lagi, akan lebih jatuh lagi. Harusnya malah kita kasih stimulus besar-besaran," tutur sang menteri.















































