loading...
Kecamuk perang yang terus membara di Timur Tengah memicu transformasi terbesar dalam sejarah perdagangan energi global. Foto/Dok
JAKARTA - Kecamuk perang yang terus membara di Timur Tengah memicu transformasi terbesar dalam sejarah perdagangan energi global . Jalur vital Selat Hormuz yang sebelumnya mengalirkan hampir 20 juta barel minyak per hari kini lumpuh dan hanya mampu menyalurkan kisaran 6 hingga 8 juta barel per hari.
Kondisi diperparah oleh deklarasi force majeure eksportir gas raksasa Qatar pasca-kerusakan fasilitas Ras Laffan akibat serangan balasan Iran. Situasi ini memaksa para produsen dan negara importir minyak merombak rute pengiriman secara drastis dengan risiko biaya yang jauh lebih mahal.
Menghadapi ancaman blokade di Selat Hormuz , negara-negara eksportir Teluk memutar otak memanfaatkan rute alternatif darat yang lebih aman dari ancaman serangan militer. Baca Juga: Lupakan Hormuz dan Suez, Rusia dan China Terobos Jalur Perdagangan Baru lewat Laut Arktik
Arab Saudi dengan cepat memanfaatkan aliran Pipa Timur-Barat (East-West pipeline) untuk mengalihkan minyak langsung ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah melalui Selat Bab el-Mandeb, alih-alih melintasi Hormuz.
Kendati menjadi penyelamat sementara, Pelabuhan Yanbu belum memiliki kapasitas dermaga memadai untuk menampung seluruh volume minyak yang biasa dikirim via Teluk Persia. Baca Juga: Harga Minyak Dunia Mendidih dalam Sepekan, Solar Tembus Rekor Tertinggi









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9349703/original/044372400_1789540755-IMG_2697.jpeg)






































