loading...
Frangky Selamat, Dosen Tetap Program Studi Sarjana Manajemen FEB Universitas Tarumanagara. Foto: Istimewa
Frangky Selamat
Dosen Tetap Program Studi Sarjana Manajemen FEB Universitas Tarumanagara
BENCANA alam di sejumlah daerah di Indonesia seolah kembali mengingatkan bahwa alam telah berubah dan rusak. Peran manusia begitu besar yang mengakibatkan bencana itu terjadi. Hujan yang semestinya menjadi berkah untuk alam seisinya malah menjadi pemicu banjir bandang, tanah longsor, dan serentetan musibah yang seolah tiada henti.
Kemurkaan alam menimbulkan banyak tanya, apa yang mesti diperbuat. Ada yang menyerukan perlunya pertobatan ekologis, penindakan tegas ke sejumlah pihak yang dianggap merusak lingkungan dan sebagainya. Serangkaian tindakan dilakukan bak pemadam api kebakaran.
Di balik itu seharusnya lembaga pendidikan khususnya perguruan tinggi berperan secara strategis, tidak cuma sekadar memberi pertolongan kepada korban bencana. Ada hal fundamental yang perlu dibangun dan diusahakan terus-menerus. Setidaknya terdapat empat aspek yang patut menjadi perhatian (Ayesha Ali, 2024).
Pertama, perguruan tinggi dipandang sebagai tempat lahirnya para pemimpin masa depan yang mampu menyampaikan praktik manajemen berkelanjutan kepada para pemangku kepentingan dan pengambil keputusan. Karena itu, penting untuk mendorong staf, dosen, dan mahasiswa agar memahami nilai-nilai utama keberlanjutan serta terus menyesuaikan perilaku mereka demi tercapainya tujuan keberlanjutan. Mahasiswa dapat berperan sebagai “juru bicara” keberlanjutan, sehingga program-program keberlanjutan menjadi lebih efektif.


















































