2026, Akankah Menjadi Tahun Runtuhnya Dominasi Dolar AS?

3 hours ago 5

loading...

Sejumlah negara mulai mengembangkan dan menggunakan mekanisme pembayaran lintas batas alternatif menandai perubahan peta keuangan dunia. FOTO/AP

JAKARTA - Keraguan terhadap keandalan dolar Amerika Serikat (AS) kian mengikis pamor mata uang yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung perdagangan dan sistem keuangan global. Sejumlah negara mulai mengembangkan dan menggunakan mekanisme pembayaran lintas batas alternatif, menandai perubahan bertahap dalam peta keuangan dunia.

Tahun 2026 dipandang sebagai momentum penting ketika "pengenceran" dominasi dolar AS makin nyata. Semakin sering Washington memanfaatkan dolar sebagai instrumen tekanan ekonomi dan geopolitik, semakin kuat pula dorongan negara-negara lain untuk mencari cara bertransaksi di luar sistem berbasis greenback.

Baca Juga: 500 Orang Terkaya Dunia Makin Tajir di 2025, Tumpuk Harta Rp36.000 Triliun dalam Setahun

Penurunan peran AS dalam perdagangan global turut mempercepat proses tersebut. Dikutip dari Wired, porsi AS dalam perdagangan dunia menyusut dari sekitar sepertiga pada 2000 menjadi seperempat saat ini. Meningkatnya perdagangan antarsesama negara berkembang membuat penggunaan dolar dalam arus barang global semakin berkurang, seperti terlihat pada transaksi India–Rusia yang kini diselesaikan dalam rupee, dirham, dan yuan.

China menjadi salah satu contoh paling menonjol. Lebih dari separuh perdagangan negara itu kini disalurkan melalui Cross-Border Interbank Payment System (CIPS), sistem pembayaran lintas batas milik Beijing, alih-alih SWIFT yang lama didominasi bank-bank Barat. Sejumlah negara lain, termasuk Brasil–Argentina, UEA–India, serta Indonesia–Malaysia, juga mulai menguji penyelesaian transaksi dengan mata uang lokal.

Read Entire Article
Prestasi | | | |