Dolar AS Dekati Rp17.000, BI Beberkan Penyebab Rupiah Tersungkur

1 day ago 11

loading...

Bank Indonesia mengungkapkan penyebab rupiah mengalami pelemahan. FOTO/dok.SindoNews

JAKARTA - Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih berlanjut pada awal tahun 2026 dan Bank Indonesia (BI) mencatat mata uang Garuda ditutup ke level Rp16.860 per dolar AS pada penutupan Selasa (13/1/2026). Angka ini mencerminkan depresiasi sebesar 1,04 persen secara tahun berjalan (year-to-date).

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea menjelaskan bahwa pelemahan ini merupakan dampak dari gejolak pasar keuangan global yang dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed).

"Bank Indonesia konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Pergerakan mata uang global pada awal 2026 ini, termasuk Indonesia, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia," ujar Erwin dalam keterangan resminya, Rabu (14/1/2026).

Baca Juga: Depresiasi Rupiah di Tengah Penguatan Harga Saham

Meskipun Rupiah melemah, Erwin menekankan bahwa kondisi ini masih sejalan dengan tren yang terjadi pada mata uang di kawasan regional. Sebagai perbandingan, Won Korea Selatan mencatatkan pelemahan yang lebih dalam yakni 2,46 persen, sementara Peso Filipina terkoreksi sebesar 1,04 persen.

BI meyakini kepercayaan investor global terhadap Indonesia masih sangat positif. Hal ini dibuktikan dengan masuknya aliran modal asing (neto) ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026. Selain itu, premi risiko (CDS) Indonesia tenor 5 tahun tetap bertahan di level rendah, yakni sekitar 72 bps.

Read Entire Article
Prestasi | | | |