loading...
Indonesian Initiative for Sustainable Mining (IISM) menegaskan pentingnya keadilan sosial dalam agenda transisi energi. Foto/istimewa
JAKARTA - Indonesian Initiative for Sustainable Mining (IISM) menegaskan pentingnya keadilan sosial dalam agenda transisi energi. Sebab keberhasilan transisi energi di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknologi dan investasi, tetapi juga kemampuan membangun tata kelola yang adil, partisipatif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Hal itu terungkap dalam forum diseminasi riset bertajuk “Menjembatani Nikel dan Keadilan” yang digelar di Hotel Swiss-Bell Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.
Forum ini mempertemukan pemerintah, pelaku industri, perwakilan negara sahabat, serta organisasi masyarakat sipil dalam diskusi terbuka yang berlangsung dinamis.
Selain pemaparan akademik, forum ini menjadi ruang dialog strategis yang mempertemukan beragam perspektif terkait masa depan industri nikel di tengah percepatan transisi energi global.
Baca juga: Kerja Sama RI-Jepang Buka Jalan Transisi Hijau, Ekonom: Momentum Perkuat Ketahanan Energi
Direktur IISM Rezki Syahrir menegaskan dimensi sosial harus terintegrasi dalam transisi energi. “Nikel kini berada di pusat agenda transisi energi global. Namun, kita juga harus menegaskan manfaatnya agar dirasakan secara adil pada semua level hingga di tingkat lokal. Kita tidak boleh membiarkan transisi ini menciptakan ketimpangan baru,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).
Sejumlah penanggap dari berbagai sektor turut memberikan perspektif kritis, di antaranya Analis Kebijakan Ahli Muda di Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM Juanda Volo Sinaga, APNI Djoko Widajatno, dan Social Investment Indonesia Jalal.


















































