loading...
Penyakit radang usus kronis seringkali disangka gangguan pencernaan biasa. Foto: ilustrasi
JAKARTA - Jumlah Kasus Inflammatory Bowel Disease (IBD) terus menunjukkan peningkatan, baik secara global maupun di Indonesia. Namun demikian, tingkat kesadaran masyarakat terhadap penyakit ini masih tergolong rendah.
Hal itu menyebabkan banyak pasien tidak mengenali gejalanya sejak dini dan baru mendapatkan diagnosis ketika penyakit telah berkembang lebih lanjut.
Perlu diketahui bahwa IBD merupakan penyakit radang usus kronis yang hingga kini masih kerap disalahartikan sebagai gangguan pencernaan biasa. Padahal, penyakit ini bersifat progresif.
Penyakit ini bisa berlangsung jangka panjang, dan dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius bila tidak ditangani secara tepat sejak dini.
Baca Juga : Sering Dikonsumsi, Makanan dan Minuman Ini Diam-diam Bisa Merusak Usus
IBD adalah kondisi inflamasi kronis pada saluran cerna yang terjadi akibat interaksi kompleks antara faktor genetik, sistem imun, lingkungan, serta mikrobiota usus. Dua bentuk utama IBD, yakni Crohn’s disease dan ulcerative colitis, sering kali menunjukkan gejala yang tidak spesifik seperti nyeri perut berulang, diare kronis, penurunan berat badan, anemia, hingga kelelahan.
Gejala-gejala ini kerap disangka sebagai maag, irritable bowel syndrome (IBS), atau infeksi saluran cerna biasa. Kesamaan gejala tersebut membuat banyak pasien IBD baru mendapatkan diagnosis ketika penyakit sudah berkembang lebih lanjut.


















































