Mengenal Tradisi Perempuan Sumba, Merawat Tenun Sumba Tetap Lestari

7 hours ago 9

loading...

Perempuan Sumba tidak bisa disebut perempuan Sumba kalau tidak bisa menenun. Sepenggal kalimat di atas meluncur dari Diana Kalera Lena, perempuan asli Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Foto: Ist

SUMBA - “Perempuan Sumba tidak bisa disebut perempuan Sumba kalau tidak bisa menenun.” Sepenggal kalimat di atas meluncur dari Diana Kalera Lena, perempuan asli Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Diana menyampaikan pandangan itu saat berbicara pada siniar di mini studio BCA Expoversary 2026, beberapa waktu lalu. Menurut dia, menenun bukan sekadar keterampilan melainkan tradisi yang sudah mengakar kuat dalam kehidupan perempuan Sumba sejak usia belia.

“Proses menenun dari tahapan awal sampai menjadi sehelai kain itu butuh proses panjang. Sejak usia 6 tahun saya sudah membantu Ibu saya dan mulai menenun pada usia 17 tahun,” ujar Diana.

Baca juga: 5 Foto Marion Jola Pakai Kain Tenun dan Aksesori Tradisional Sumba, Cantik Khas Indonesia

Melalui program pelatihan wastra warna alam, Bakti BCA memberikan pembinaan kepada kelompok penenun di Sumba dengan menggandeng Perkumpulan Warna Alam Indonesia (WARLAMI). Diana menjadi salah satu penenun yang dibina melalui program tersebut.

Read Entire Article
Prestasi | | | |