loading...
Perdana Wahyu Santosa, Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute, dan CEO SAN Scientific. Foto/Istimewa
Perdana Wahyu Santosa
Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute, dan CEO SAN Scientific
MENGENANG Mei 1998 bagi seorang ekonom moneter adalah melihat sebuah luka pedih dalam sejarah mata uang kita. Saat itu, rupiah terjun bebas dari kisaran Rp2.500 ke kisaran Rp16.000-Rp17.000 per dolar AS hanya dalam hitungan bulan.
Hari ini, 28 tahun sejak gelombang reformasi itu bermula, kita kembali melihat rupiah berada di level yang secara nominal tampak mirip, namun tentu dengan anatomi masalah yang sangat berbeda. Mengidentifikasi rupiah hari ini hanya dari angka nominalnya mungkin merupakan kekeliruan fatal. Kita tidak sedang berada dalam krisis kepercayaan sistemik seperti dulu; kita sedang menavigasi badai global yang jauh lebih kompleks di tahun 2026 ini.
Ketidakpastian global yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah telah mengubah peta risiko secara drastis. Lonjakan harga minyak dunia bukan hanya mengancam inflasi global, tetapi juga mempersempit ruang bagi bank sentral dunia untuk menurunkan suku bunga.
Di tengah situasi ini, Indonesia berdiri dengan fundamental yang jauh lebih kokoh. Cadangan devisa kita pada akhir Maret 2026 tercatat sebesar 148,2 miliar dolar AS. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan "peluru" yang cukup untuk memitigasi dampak rambatan eksternal dan menjaga stabilitas nilai tukar dari volatilitas yang berlebihan.
Sinergi sebagai Benteng Pertahanan
Akar persoalan rupiah saat ini bukanlah rapuhnya perbankan domestik, melainkan tekanan pada neraca pembayaran akibat aliran modal keluar (net outflows) yang mencapai 1,6 miliar dolar AS pada Maret 2026. Namun, yang menarik adalah bagaimana otoritas kita merespons.


















































