Penjualan Nyungsep dan Kalah Laris dari BYD, Kenapa Tesla Malah Jadi Perusahaan Mobil Termahal di Dunia?

7 hours ago 9

loading...

Meski volume penjualan Tesla disalip BYD sebesar 600 ribu unit lebih, saham perusahaan Elon Musk tetap menguat berkat janji layanan Robotaxi dan produksi Cybercab tanpa setir di tahun 2026. Foto: Reuters

SAN FRANSISCO - Tesla, sang pionir yang mempopulerkan mobil listrik ke seluruh dunia, akhirnya harus merelakan mahkota "penjualan terbanyak" jatuh ke tangan rival utamanya dari China, BYD.

Namun, di tengah merosotnya angka penjualan fisik unit kendaraan, Tesla justru semakin kokoh sebagai perusahaan otomotif paling bernilai di dunia, anomali pasar yang digerakkan oleh janji masa depan bernama Robotaxi.

Data penutupan tahun 2025 melukiskan gambaran kontras tersebut. Tesla melaporkan pengiriman kendaraan sebanyak 1,64 juta unit, turun 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Angka ini terpaut jauh di bawah BYD yang sukses mencatatkan penjualan 2,26 juta unit. Secara volume, Tesla telah kalah telak.

Namun, di lantai bursa, cerita berjalan berbeda. Saham Tesla menutup tahun 2025 dengan kenaikan keseluruhan sekitar 11 persen.

Pada perdagangan Jumat sore waktu setempat, sahamnya berada di level USD436,85 atau setara Rp6,9 juta per lembar.

Investor tampaknya tidak lagi menilai Tesla sekadar sebagai perusahaan mobil, melainkan sebagai raksasa teknologi yang memegang kunci transportasi otonom masa depan.

Mengapa Penjualan Tesla Nyungsep di 2025?

Penjualan Nyungsep dan Kalah Laris dari BYD, Kenapa Tesla Malah Jadi Perusahaan Mobil Termahal di Dunia?

Kejatuhan volume penjualan Tesla selama dua tahun berturut-turut dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Pemberontakan konsumen terhadap pandangan politik sayap kanan Elon Musk disinyalir menjadi salah satu penyebab lunturnya loyalitas merek.

Read Entire Article
Prestasi | | | |