loading...
Perang Iran-AS dan Israel bikin harga Bitcoin naik. Foto: ist
JAKARTA - Biasanya, ketika dentuman rudal perang terdengar, pasar keuangan dunia akan tiarap ketakutan. Namun, logika ini justru dijungkirbalikkan oleh Bitcoin pada awal Maret 2026.
Ketika konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memasuki hari ketiga dan memicu penutupan Selat Hormuz, pasar justru memborong aset kripto.
Puncaknya, harga Bitcoin melonjak drastis menyentuh angka USD70.000 pada Senin (2/3/2026) malam. Sebuah pencapaian yang terakhir kali terlihat pada 15 Februari 2026.
“Dalam 24 jam terakhir hingga Selasa pukul 08.00 WIB, Bitcoin masih menguat 3,75 persen dan bertengger di posisi USD69.000 atau setara Rp 1.158.119.642," jelas Panji Yudha, Financial Expert Ajaib.
Penguatan ini ibarat lokomotif yang menarik gerbong lainnya. Total kapitalisasi pasar aset kripto dunia ikut melonjak 3,10 persen menjadi USD2,34 triliun. Kini, dominasi Bitcoin di pasar (BTC.D) sangat solid di level 59 persen.
Mengapa Laku Saat Perang?
Melihat tren pasar di 2026, fenomena ini adalah bentuk nyata dari "pencarian tempat berlindung".


















































