Perang Iran-AS Bikin Warga Asia Ramai-Ramai Borong Mobil Listrik!

5 hours ago 7

loading...

Harga BBM yang naik mendorong masyrakat untuk beralih ke kendaraan listrik yang lebih murah. Foto: Sindonews/Danang Arradian

JAKARTA - Ledakan konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memicu "tsunami" kepanikan energi di kawasan Asia-Pasifik: memaksa jutaan pengendara dan korporasi beralih ke mobil listrik (EV) secara besar-besaran.

Perang yang terus berkecamuk ini nyaris menghentikan total jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Padahal, rute sempit ini merupakan nadi utama yang mengalirkan sekitar seperlima dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.

Dengan lebih dari 80 persen minyak dari selat tersebut ditujukan untuk pasar Asia, kawasan ini menjadi korban paling telak dari guncangan harga minyak global.

Transisi darurat ini terjadi dalam kecepatan yang tak terbayangkan. Di Australia, negara dengan lanskap luas yang sangat bergantung pada bahan bakar minyak, bank terbesar kedua NAB mencatat lonjakan pengajuan pinjaman EV sebesar 100 persen sepanjang bulan Maret 2026.

Permintaan kredit EV dari perusahaan juga meroket 88 persen. "Kami melihat lebih banyak UKM dan operator besar mengeksplorasi EV guna mengelola biaya operasional di tengah volatilitas harga bahan bakar," papar Shane Ditcham, Eksekutif Perbankan Bisnis NAB.

Kepanikan ini terlihat dari pencarian EV di situs jual-beli mobil Australia yang melonjak 3 kali lipat bulan lalu, dengan lebih dari 50 persen populasinya kini serius mempertimbangkan EV.

Read Entire Article
Prestasi | | | |