Subsidi Energi 2027 Bengkak Jadi Rp272,9 Triliun, ESDM Singgung Pelemahan Rupiah

1 week ago 57

loading...

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ahmad Erani Yustika. FOTO/Iqbal Dwi P

JAKARTA - Pemerintah mengalokasikan subsidi energi sebesar Rp272,9 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027, naik 20,1% dibandingkan outlook 2026 sebesar Rp227,25 triliun. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kenaikan tersebut.

"Juga nilai tukarnya juga mempengaruhi karena asumsi nilai tukarnya juga mempengaruhi itu semua kan," ujar Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ahmad Erani Yustika saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (21/8/2026).

Baca Juga: Desil 10 Dilarang Beli Pertalite, Purbaya Klaim Hemat Anggaran 10%

Erani mengatakan besaran subsidi energi tidak ditentukan oleh satu faktor. Selain nilai tukar rupiah, harga minyak dunia yang tercermin dalam asumsi Indonesia Crude Price (ICP) serta kuota penyaluran energi bersubsidi turut memengaruhi kebutuhan anggaran.

"Jadi nanti kalau sudah betul-betul diketok pada bulan September atau Oktober kita bisa ini ya. Kan kalau soal subsidi itu kan tergantung dari kuotanya nanti, tergantung dengan harga minyak internasional, ICP-nya, ada beberapa variabel lain yang itu bisa mempengaruhi besar kecilnya atau bertambah berkurangnya subsidi," jelasnya.

Dalam RAPBN 2027, pemerintah mengalokasikan subsidi energi untuk tiga komoditas utama, yakni bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp28,7 triliun, LPG tabung 3 kilogram Rp114,1 triliun, dan listrik Rp130,1 triliun. Dengan demikian, total subsidi energi mencapai Rp272,945 triliun atau sekitar Rp272,9 triliun.

Read Entire Article
Prestasi | | | |