loading...
Andi Setyo Pambudi, Mahasiswa Doktoral Manajemen Berkelanjutan, Perbanas Institute. Foto/Dok.Pribadi
Andi Setyo Pambudi
Mahasiswa Doktoral Manajemen Berkelanjutan, Perbanas Institute
DI PANGGUNG global, narasi transisi energi terdengar semakin meyakinkan. Dunia diajak meninggalkan energi fosil dan beralih ke sumber energi bersih. Amerika Serikat tampil sebagai salah satu pengusung paling vokal, mempromosikan kendaraan listrik, panel surya, dan teknologi hijau sebagai simbol masa depan.
Di berbagai forum internasional, pesan yang disampaikan terdengar lugas dan optimistis. Minyak dianggap masa lalu, sementara baterai disebut sebagai jawaban zaman.
Namun, di balik retorika hijau tersebut, tersimpan kontradiksi yang sulit diabaikan. Jika energi fosil benar benar hendak ditinggalkan, mengapa Venezuela justru tetap menjadi sasaran tekanan geopolitik yang begitu intens. Sanksi ekonomi, manuver diplomatik, hingga operasi intelijen terus diarahkan ke negara Amerika Latin itu.
Pertanyaannya sederhana, tetapi tajam. Mengapa sebuah negara yang sering dilabeli gagal masih begitu penting bagi negara adikuasa.
Jawabannya tidak terletak pada isu demokrasi atau stabilitas politik semata. Ia berada pada ranah yang lebih teknis dan dingin.
Geopolitik tidak digerakkan oleh idealisme lingkungan, melainkan oleh kebutuhan nyata akan energi, logistik industri, dan keamanan strategis. Dalam dunia nyata, transisi energi bukanlah saklar yang bisa dimatikan dan dinyalakan sesuka hati.















































