loading...
Perang Iran dan AS bisa kembali berkecamuk. Foto/X
TEHERAN - Joey Hood, mantan penjabat direktur Kantor Urusan Iran di Departemen Luar Negeri AS, mengatakan bahwa jeda pertempuran saat ini antara Iran dan AS “tidak akan berlangsung lama” karena ia meyakini “kedua belah pihak sedang mempersenjatai diri kembali, melengkapi peralatan, dan melakukan persiapan.”
Hood mengatakan nota kesepahaman (MoU) bulan Juni itu “memang ditakdirkan gagal” karena “disusun dengan sangat buruk dan memberi Iran kesempatan untuk menafsirkan MoU tersebut seolah-olah memberikan kedaulatan atas Selat Hormuz dan masa depan Lebanon.”
“Jika ada diplomat profesional yang terlibat dari pihak AS, dokumen itu tidak akan pernah ditulis seperti itu. Hal itu tidak akan pernah memberikan celah bagi Iran untuk menafsirkannya secara leluasa," katanya dilansir Al Jazeera.
Menurut Hood, tidak ada “tanda-tanda” MoU tersebut akan dihidupkan kembali atau kesepakatan baru akan tercapai karena “kedua belah pihak sedang bersitegang keras.”
Ia menyebut sikap Iran yang “bersikeras memiliki kedaulatan atas” Selat Hormuz sebagai hambatan utama dan memprediksi bahwa “jika Iran mengizinkan kapal-kapal melintas kembali secara bebas”, maka Trump akan membalasnya “dengan mencabut blokade angkatan laut dan sanksi minyak.”
Kemudian, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan hambatan utama dalam penyelesaian sengketa antara Teheran dan Washington bukanlah kurangnya mediator.




















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9339864/original/075800400_1788431827-IMG_4442.jpeg)





























