loading...
Jabatan merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Foto ilustrasi/ist
Jabatan kerap dipandang sebagai simbol kehormatan, kedudukan, hingga pencapaian seseorang. Namun dalam perspektif Islam, jabatan bukanlah sesuatu yang semata-mata untuk dibanggakan.
Jabatan merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Karena itu, seseorang yang mendapatkan kepercayaan untuk menduduki suatu jabatan dituntut menjalankannya dengan adil, jujur, dan penuh tanggung jawab.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya." (QS An-Nisa: 58)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa setiap amanah, baik besar maupun kecil, harus diberikan kepada orang yang berhak dan mampu menjalankannya.
Dalam konteks jabatan, amanah tidak seharusnya dijadikan sarana untuk memenuhi kepentingan pribadi. Sebaliknya, jabatan merupakan tanggung jawab untuk memberikan pelayanan dan menjalankan tugas secara benar.
Baca juga: Hadis tentang Larangan Meminta Jabatan, Ini Peringatan Rasulullah SAW
Jabatan juga dapat menjadi sebuah ujian bagi seseorang. Sebagaimana harta dan anak-anak, kedudukan yang dimiliki manusia dapat menjadi sarana untuk menguji keimanan.
Allah SWT berfirman:
وَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَاۤ اَمۡوَالُكُمۡ وَاَوۡلَادُكُمۡ فِتۡنَةٌ ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ عِنۡدَهٗۤ اَجۡرٌ عَظِيۡمٌ
"Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar."
(QS Al-Anfal: 28)
Jika dijalankan dengan penuh amanah, jabatan dapat menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebaliknya, kekuasaan yang disertai kesombongan dan ketidakadilan justru dapat menjauhkan seseorang dari-Nya.
Islam juga mengingatkan agar seseorang tidak mengikuti hawa nafsu ketika menjalankan amanah. Allah SWT berfirman:

















































