Berteman dengan Kecerdasan Buatan

4 hours ago 3

loading...

Ramdansyah. Foto: Dok Pribadi

Ramdansyah
Peneliti Pascasarjana Universitas Islam Jakarta

KECERDASAN buatan semakin pandai melakukan pekerjaan yang selama ini dianggap milik manusia. Artificial intelligence (AI) dapat menulis, menerjemahkan bahasa, membuat gambar, menggubah musik, merangkum bacaan, dan membantu penelitian dengan kecepatan yang sulit ditandingi manusia.

Kemampuan itu membuka peluang besar. Namun, semakin canggih AI, semakin mendesak pula sebuah pertanyaan: apakah kita akan menerima teknologi itu atau meninggalkannya sama sekali?

Pertanyaan semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Pada awal 1970-an, kehadiran radio dan televisi sebagai medium modern juga menghadirkan respons berbeda. Ada yang menerimanya, ada pula yang menolaknya karena melihat berbagai mudarat yang mungkin ditimbulkan.

Kini manusia berhadapan dengan teknologi informasi yang jauh lebih canggih. Persoalannya bukan hanya apakah manusia menerima AI, melainkan apakah manusia masih mampu menentukan nilai, tujuan, dan tanggung jawab ketika mesin mengambil semakin banyak bagian dalam kehidupan.

Di tengah persoalan global tersebut, pengalaman kebudayaan Indonesia memberikan analogi menarik. Puluhan tahun lalu, Rhoma Irama menghadapi persoalan yang tentu berbeda secara teknis, tetapi memiliki kemiripan secara etis: bagaimana menerima kekuatan medium modern tanpa menyerahkan kepadanya seluruh orientasi kehidupan manusia?

Dalam perjalanan religius seseorang, modernitas terkadang dipandang sebagai sesuatu yang harus dijauhi. Musik, hiburan, media massa, bahkan teknologi modern dapat dipertentangkan dengan kesalehan individual.

Rhoma mengambil jalan berbeda. Ia tidak meninggalkan musik setelah kembali dari perjalanan haji. Ia tetap berada di dalam modernitas, tetapi berusaha memberikan arah moral kepada medium yang digunakannya.

Tidak Menolak Teknologi

Religiositas tidak membawa Rhoma meninggalkan musik dan kebudayaan populer. Ia tetap tampil, merekam lagu, hadir di televisi dan film, menggunakan media, serta berkomunikasi dengan khalayak luas. Pada saat yang sama, praktik keagamaan dan pandangan hidup Islam tetap dipertahankan dalam aktivitas bermusiknya.

Pilihan itu menghasilkan posisi yang menarik: tidak menerima modernitas tanpa kritik, tetapi juga tidak meninggalkannya.

Soneta kemudian mengusung identitas Voice of Moslem. Dangdut tetap menjadi hiburan populer, tetapi musik sekaligus digunakan sebagai medium dakwah, kritik, pendidikan moral, dan refleksi keagamaan. Dari sinilah gagasan “musik bersih” menjadi relevan.

“Bersih” tidak seharusnya dipahami sebagai klaim untuk menentukan secara universal musik mana yang bermoral dan mana yang tidak. Intinya justru terletak pada penolakan terhadap anggapan bahwa medium kebudayaan bebas dari tanggung jawab.

Musik bersih menempatkan karya sebagai bagian dari pertanggungjawaban manusia kepada Tuhan dan sesama manusia, bukan semata-mata seni untuk seni (l’art pour l’art) yang melepaskan diri dari nilai moral.

Read Entire Article
Prestasi | | | |