loading...
Dampak perang Amerika Serikat atau AS-Israel melawan Iran kini mulai merongrong keuangan raksasa energi dunia. Foto/Dok
JAKARTA - Dampak perang Amerika Serikat atau AS-Israel melawan Iran kini mulai merongrong keuangan raksasa energi dunia. Dua perusahaan migas terbesar AS, ExxonMobil dan Chevron melaporkan penurunan produksi yang signifikan serta kerugian finansial yang mencapai miliaran dolar akibat disrupsi operasional dan blokade di Selat Hormuz .
Dalam laporan terbaru kepada regulator AS, kedua perusahaan ini mengakui bahwa konflik di Timur Tengah telah menciptakan volatilitas pasar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Terutama bagi aset-aset yang terafiliasi dengan negara Barat.
ExxonMobil memberikan sinyal bahaya dengan potensi kerugian pendapatan hingga USD6,5 miliar atau setara Rp103 triliun. Perusahaan juga mencatat bahwa produksi minyak dan gas global mereka pada kuartal pertama 2026 bakal merosot sekitar 6% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Baca Juga: Bukan AS, Ini 4 Perusahaan China yang Menggarap Ladang Minyak Irak
Faktor utama kejatuhan ini adalah serangan terhadap fasilitas energi di Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA), di mana Exxon memiliki saham besar di sana. Beberapa kerusakan aset salah satunya fasilitas likuifaksi gas (LNG) di Qatar mengalami kerusakan parah.

















































