Di Balik Data Manis Meta: AI, Kreator, dan Bisnis yang Makin Bergantung pada Satu Platform

2 weeks ago 84

loading...

Meta memamerkan angka-angka mentereng soal AI dan belanja sosial di Asia Pasifik, tapi di balik data itu ada pertanyaan yang belum dijawab: siapa yang benar-benar diuntungkan. Foto: Gemini

JAKARTA - Meta bicara lagi soal masa depan belanja. Kali ini lewat mulut Benjamin Joe, Vice President Asia Pasifik, dalam pemaparan pers regional di Indonesia.

Isinya: AI, kreator, dan perdagangan bakal jadi mesin pertumbuhan bisnis di kawasan ini. Kedengarannya meyakinkan. Tapi mari dibaca lebih pelan.

Klaimnya besar. Separuh konsumen Asia Pasifik disebut menemukan dan membeli produk lewat media sosial. Delapan dari sepuluh orang nonton livestream tiap pekan.

Tingkat kepercayaan pada rekomendasi kreator disebut tertinggi di dunia. Semua data ini datang dari studi yang ditugaskan sendiri oleh Meta lewat Ipsos, dengan 14.473 responden di 18 negara pada musim liburan November 2025. Bukan riset independen. Wajar kalau hasilnya menguntungkan Meta.

Joe bicara soal ekosistem yang menghubungkan livestream, chat, sampai transaksi. "Setiap tahapan saling terhubung dan memperkuat tahapan berikutnya," katanya.

Kalimat manis. Kira-kira maksudnya ini: semakin banyak titik kontak, makin sulit pengguna dan bisnis keluar dari ekosistem Meta.

Soal AI, nada bicaranya berubah dari tahun lalu. "Tahun lalu masih eksperimen. Tahun ini klien bertanya seberapa cepat AI bisa diintegrasikan penuh," ujar Joe.

Pendapatan Meta memang tumbuh 28% secara tahunan, dengan 3,6 miliar orang memakai minimal satu aplikasi Meta tiap hari.
Sembilan juta usaha kecil sudah pakai tools kreatif AI generatif untuk bikin iklan. Fitur pembuatan gambar naik dua kali lipat dalam satu kuartal.

Read Entire Article
Prestasi | | | |