loading...
Di tengah kecamuk perang yang melumpuhkan Selat Hormuz, sebuah jaringan ekspor gelap (shadow network) berskala raksasa muncul secara mengejutkan. Foto/Dok
JAKARTA - Di tengah kecamuk perang yang melumpuhkan Selat Hormuz , sebuah jaringan ekspor gelap (shadow network) berskala raksasa muncul secara mengejutkan. Koridor rahasia ini berhasil mengalirkan lebih dari 4 juta barel minyak per hari (bpd), membendung ancaman krisis energi global dan mencegah lonjakan harga minyak mentah hingga ke angka tiga digit.
Menyusul ancaman perang Iran yang telah berlangsung berbulan-bulan, empat negara produsen utama -Uni Emirat Arab (UEA), Irak, Kuwait, dan Qatar- mengoperasikan sekitar 150 kapal tanker siluman di lepas pantai Oman. Kapal-kapal ini melintasi Selat Hormuz dengan mematikan sistem pelacak (AIS) dan lampu navigasi, sebelum memindahkan muatan secara ship-to-ship (STS) ke kapal tanker yang lebih besar di luar selat.
Fenomena ini membuktikan prediksi Menteri Keuangan atau Menkeu AS, Scott Bessent bahwa Selat Hormuz berpotensi menjadi tidak relevan akibat taktik rekayasa logistik darurat dari para produsen kawasan Teluk.
Baca Juga: 80% Kapal Pilih Jalur Oman, Apakah Iran Sudah Kehilangan Kendali di Selat Hormuz?
Sebelum konflik pecah, hampir 20 juta bpd minyak mentah dan produk olahan melintasi Selat Hormuz. Jalur ekspor siluman yang mulai terbentuk sejak Mei ini menjadi penopang utama pasokan global saat jalur komersial normal praktis tertutup.


















































